Sebuah Cerita yang Aku Gantungkan di Langit Allah

Namaku Tyo. Ini bukan tentang kisah cinta biasa. Ini tentang sebuah proses — tentang niat baik, tentang usaha yang belum sampai, dan tentang seseorang yang aku kenal sebagai wanita Wahdah yang begitu berarti dalam hidupku.

Aku mengenalnya bukan dari forum besar, bukan dari majelis atau pertemuan formal. Tapi perjumpaan kami bukan kebetulan. Ia hadir di saat aku sedang memperbaiki diri — meninggalkan kebiasaan buruk, belajar lebih dalam tentang agama, dan memperbaiki hubunganku dengan Allah dan orang tuaku.

Dia berbeda.

Wanita Wahdah ini penuh prinsip, sabar, teguh dalam ibadah, dan sangat kuat secara spiritual. Bacaan Qurannya lembut, tutur katanya jujur, dan akhlaknya meneduhkan. Aku merasa, kehadirannya bukan sekadar teman bicara — tapi cermin yang membuatku sadar: aku harus menjadi laki-laki yang lebih bertanggung jawab.

Aku tahu, niat baik saja tak cukup. Aku datang dengan segala kekurangan. Saat itu, bahkan tabunganku hanya cukup untuk hidup harian. Tapi niatku besar: aku ingin menyambutnya sebagai calon istri, dengan cara yang benar — ta’aruf, istikharah, dan restu orang tua.

Namun jalan itu tidak semudah rencana.

Restu belum sepenuhnya mengalir. Kondisiku belum ideal. Dan akhirnya, kami sempat berselisih. Bukan pertengkaran, tapi beda pandangan. Ia bilang, mungkin belum waktunya. Dan aku mengerti. Ia cukup bijak untuk tahu bahwa pernikahan butuh kesiapan lebih dari sekadar cinta.

Lalu aku katakan:

“Mas sadar sepenuhnya bahwa pernikahan itu hal besar, bukan sekadar rasa. Tapi mas nggak main-main. Mas ingin datang bukan dengan janji, tapi dengan bukti.”

Anggaplah ini perselisihan pertama kita. Tapi juga pelajaran pertama yang paling nyata.

Sekarang, aku cukupkan semuanya dalam diam. Dalam doa. Aku tidak ingin membahas ini lagi, karena bukan waktunya untuk memaksa. Mas gak mau bahas ini lagi. Mas cukupkan di usaha dan ikhtiar.

Aku percaya, Allah Maha Adil. Jika memang dia adalah takdirku, kami akan dipertemukan dalam kondisi terbaik. Dan jika tidak, semoga Allah gantikan dengan yang lebih baik — tanpa mengurangi rasa hormat dan doaku untuknya.

Setiap hari aku bekerja, bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk bertumbuh. Jika suatu hari Allah izinkan, aku ingin datang bukan membawa mimpi, tapi membawa bukti.

Dan untukmu, wanita Wahdah yang pernah jadi inspirasiku…

Mas ingin kamu tahu bahwa kamu membuat mas jadi lebih baik. Terima kasih telah hadir sebagai cermin, sebagai cahaya, dan sebagai doa yang pernah dekat.

Semoga Allah jaga kamu. Semoga kita selalu dalam lindungan dan bimbingan-Nya. Dan semoga ketika waktunya tiba — apakah bersama atau tidak — hati ini tetap lapang dan penuh syukur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *