Superman 2025 — Napas Segar dalam Dunia Superhero yang Melelahkan

Jarang sekali aku benar-benar merasa terikat dengan sebuah film hingga memutuskan untuk menggunakan skor musiknya sebagai latar kerja sehari-hari. Terakhir kali itu terjadi mungkin bertahun-tahun lalu. Namun kali ini, Superman 2025 membuat pengecualian besar dalam hidupku. Ada sesuatu yang sangat berbeda dalam film ini—sebuah daya tarik yang membuatnya sulit untuk diabaikan, bahkan setelah keluar dari bioskop.

Superman 2025 terasa seperti oase di tengah padang pasir genre superhero yang mulai kehilangan pamornya. Penonton sudah lelah dengan formula yang itu-itu saja, bahkan film-film Marvel belakangan ini pun mulai kehilangan sentuhan magisnya. Sebagai penggemar Marvel garis keras, aku harus mengakui: Superman 2025 adalah film DC terbaik sejak era Man of Steel dan bahkan lebih kuat dalam narasi dibandingkan Snyderverse.

Yang membuat film ini luar biasa bukan hanya efek visual atau akting para pemerannya, tapi keberanian James Gunn dalam menyisipkan kritik sosial-politik yang tajam. Di balik layar aksi Superman melawan musuh-musuhnya, tersirat pesan yang berani dan jelas: perlawanan terhadap dominasi korporasi dan ketimpangan kekuasaan global. Film ini menampilkan negara diktator fiksi yang sangat mirip dengan situasi di Timur Tengah, didukung oleh korporasi besar—LuthorCorp—yang punya kemiripan mencolok dengan sosok Elon Musk. Luthor menciptakan Pocket Universe yang mengandung black hole, ide yang mengingatkanku pada rencana kolonisasi Mars yang diusung Musk di dunia nyata.

Aku mengapresiasi keberanian film ini menyentuh isu-isu besar secara simbolik, termasuk dalam menyampaikan kritik terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat, terutama yang berkaitan dengan konflik Israel. James Gunn tidak bermain aman, dan justru itulah yang membuat film ini terasa relevan dan berani.

Meski secara pribadi aku pernah mendukung beberapa kebijakan Donald Trump—seperti keluar dari WHO dan sikapnya terhadap isu LGBTQ—namun dukungannya terhadap Israel tetap menjadi hal yang tidak bisa kuterima. Dan film ini, secara halus namun tegas, menyentil hal-hal seperti itu melalui alegori dan simbol-simbol yang cerdas.

Jika tahun lalu dunia hiburan dipenuhi euforia Deadpool vs Wolverine, maka tahun ini adalah waktunya Superman 2025 mengambil panggung sebagai pembuka era baru DCU. Film ini bukan hanya awal yang menjanjikan bagi semesta DC yang baru, tapi juga sebuah pernyataan tegas: bahwa superhero bisa lebih dari sekadar aksi dan ledakan—mereka bisa menjadi suara bagi nurani kolektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *